The Señorío Ritual – Santet ala Mexico

The Señorio Ritual ini berasal dari Mexico dan berasal dari abad ke-18. Seperti santet di Indonesia, ritual ini bertujuan untuk mengutuk seseorang sampai mati – dan memerlukan pelakunya untuk memiliki dendam kesumat luar biasa terhadap korban yang dituju. Ritual ini juga merupakan salah satu ritual horor paling susah yang pernah saya temui di arsip saya, dan nyaris mustahil dilakukan di zaman modern ini.

Ritual ini juga sering disebut sebagai “The Manor Ritual” karena salah satu syaratnya adalah hanya keluarga pemilik mansion – atau di zaman dahulu semacam tuan tanah – yang bisa melakukan ritual ini, dan hanya bisa dilakukan oleh nyonya rumah. Tatacara lengkap pelaksanaan ritual ini agak simpang siur karena satu-satunya sumber tertulis yang ada kondisinya sudah rusak dan beberapa bagiannya susah dibaca, sehingga tim riset yang mencari tahu tentang ritual ini pun harus bergantung kepada tradisi oral.

Di artikel kali ini, saya akan membagikan tatacara pelaksanaan ritual ini untuk kepentingan pengetahuan semata, dan saya sangat menyarankan untuk TIDAK PERNAH MENCOBA MELAKUKAN RITUAL INI. Selain karena ritual ini memang dibuat untuk mencelakai orang, ritual ini juga terkenal sangat berbahaya bagi pelakunya dan bisa dengan mudah berbalik – sama seperti santet zaman sekarang yang juga bisa dengan mudah berbalik menyerang si penyantet.

Enjoy.


The Señorio Ritual: santet ala Mexico paling mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah, berasal dari abad ke-18. Terakhir ritual ini dilakukan adalah di taun 1840-an, yang diketahui berkat ditemukannya catatan harian seorang pemilik mansion yang menuliskan pengalamannya menjalani ritual ini. Ritual ini kini sudah tak pernah dipraktekkan lagi.

Danger Level = Hell

What you need =

  • Pelaku ritual harus memiliki manor – atau mansion – yang minimal memiliki dua lantai dengan sebuah tangga utama yang menghubungkan kedua lantai tersebut. Lokasi mansion tersebut juga akan mempengaruhi kesuksesan ritual. Menurut catatan, semakin sunyi dan terpencil mansion tersebut, semakin besar tingkat keberhasilannya. Ketika ritual berlangsung, seluruh penghuni mansion harus diasingkan dari bangunan tersebut – dan hanya orang-orang yang diperlukan untuk menjalankan ritual yang diperbolehkan masuk.
  • Sebuah lokasi di dalam mansion tersebut harus dipilih. Idealnya, dua buah ruangan kosong yang letaknya tepat bertumpukan. Deskripsi yang diberikan adalah “el piso de la sala superior es el techo de la sala inferior” atau “langit-langit ruangan di lantai bawah haruslah bersentuhan dengan lantai ruangan atas”. Jika di dalam ruangan tersebut ada barang peninggalan turun-temurun atau lukisan keluarga, benda-benda tersebut harus disingkirkan. Seluruh jendela di dalam kedua ruangan tersebut akan ditutupi dengan kain hitam tebal untuk menangkal cahaya.
  • Sebuah kursi untuk ditaruh di ruangan atas. Kursi ini akan ditaruh di tengah ruangan persis dan menghadap ke arah pintu, di mana pelaku ritual (biasanya nyonya rumah pemilik mansion) akan duduk untuk melakukan ritual.
  • Kain linen untuk menutupi seluruh lantai ruangan di lantai bawah.
  • Sebuah tombak panjang yang ditancapkan di tengah-tengah ruangan di lantai bawah dengan ujung tombak yang tajam menghadap ke atas.
  • “Boneka” yang akan melukiskan korban yang dituju. “Boneka” ini harus disiapkan oleh seorang asisten, biasanya anggota keluarga pemilik mansion yang lebih muda, atau pelayan keluarga. “Boneka” ini dibuat dari mayat – ya, mayat – orang lokal atau budak Afrika, yang akan didandani dan diberi pakaian agar semirip mungkin dengan korban yang dituju. Namun ada juga keluarga yang menggunakan boneka voodoo berukuran sebesar manusia yang terbuat dari bahan yang lebih lazim – jerami, kayu, dan kain. Apapun bahannya, “boneka” ini harus ditancapkan di tombak yang disiapkan di ruangan bawah, namun asisten tersebut harus berhati-hati ketika memasang “boneka” agar tidak menyentuh lantai sama sekali.

Terdengar rumit? Yes, karena tingkat kerumitan yang sangat tinggi ini justru The Señorio Ritual, santet ala Mexico ini, terkenal karena tingkat keberhasilannya juga tinggi, dan kematian korban yang dituju pun akan terjadi dengan sangat mengenaskan dan – saya bayangkan – pastilah sangat memuaskan bagi pelaku santet yang menyimpan dendam kesumat.


Bagian dalam sebuah mansion – atau rumah manor – di Mexico, yang berasal dari abad ke-18. Rumah-rumah seperti ini biasanya dimiliki oleh kaum kelas atas – atau tuan tanah di zaman tersebut. Di rumah-rumah seperti inilah The Señorio Ritual akan dilangsungkan.

How to play =

  • Ritual santet ini biasanya dimulai sesaat setelah matahari tenggelam. Dalam gelap, pelaku ritual – biasanya nyonya rumah pemilik mansion – akan duduk di kursi yang sudah disiapkan di lantai atas dalam kegelapan total. Setelah ini, ada dua tradisi berbeda untuk langkah selanjutnya. Dalam tradisi ritual sebelum tahun 1800, asisten ritual akan menutup pintu dan meninggalkan pelaku ritual sendirian di dalam – di mana pelaku ritual akan menutupi kepalanya dengan kain atau karung goni. Namun, dalam pelaksanaan ritual setelah tahun 1800, biasanya asisten juga akan meletakkan cermin panjang di depan pelaku ritual beserta tiga lilin yang harus dinyalakan oleh pelaku ritual santet ini, dan duduk menatap bayangannya di cermin yang diterangi temaram cahaya lilin.
  • Langkah selanjutnya, asisten ritual akan menggunakan “sange negra” atau “darah hitam”, cairan yang dibuat dari darah hewan yang dicampurkan dengan bahan tertentu yang tak diketahui – informasi lengkap tentang bahan “darah hitam” ini telah hilang dimakan zaman. Dalam ilustrasi, “darah hitam” ini digambarkan sebagai cairan kental berwarna nyaris hitam, dan beberapa tradisi oral menyatakan cairan ini dibuat dengan mencampurkan darah dengan abu.
  • Asisten ritual santet kemudian akan menyiramkan “darah hitam” ini ke “boneka” korban di ruangan bawah. Asisten harus menyiapkan cukup banyak “darah hitam” untuk melumuri seluruh bagian “boneka” tersebut dan menetes-netes ke kain linen yang menutupi lantai. Namun, susahnya di sini, asisten juga harus memastikan “darah hitam” tersebut tidak menetes terlalu lama – karena langkah selanjutnya tak akan bisa dijalankan ketika tetesan “darah hitam” belum berhenti.

Boneka ini lazim disebut dengan “Mexican Death Doll” dan biasanya digunakan untuk “Day of the Dead”, festival di mana orang-orang akan berkumpul untuk mengenang teman dan keluarga mereka yang telah tiada, mirip seperti tradisi “Qingming” atau cengbeng orang Tionghoa.

Boneka ini biasanya menggambarkan tengkorak wanita yang berasal dari keluarga kaya, dan dinamai “La Catrina”. Boneka ini juga melambangkan peringatan bagi orang Mexico bahwa semua orang setara di hadapan kematian.


  • Sambil menuangkan “darah hitam”, asisten ritual santet harus mengatakan mantra ini, “Él te derriba” (“Dia mengusirmu keluar!”) keras-keras sebanyak tujuh kali.
  • Di mantra ketujuh, maka pelaku ritual di lantas akan memulai bagiannya dalam ritual Señorio. Jika mengikuti tradisi lama, maka pelaku ritual akan menutupi telinga mereka dengan kedua tangan dan membaca, “Dios no ve este casa” (“Tuhan tidak melihat rumah ini”) berkali-kali. Namun jika pelaku ritual santet ini mengikuti tradisi yang lebih baru, maka ia harus mengucapkan mantra di atas tujuh kali, kemudian memelototi cermin di kegelapan sambil menyeringai.
  • Ketika pelaku ritual di lantai atas membaca mantra, asisten di lantai bawah akan menunggu sampai “el diablo ha tenido suficiente para beber” atau “saat di mana para iblis sudah puas minum”. Dalam Señorio Ritual, saat ini diindikasikan dengan saat di mana “darah hitam” yang sudah dituangkan ke “boneka” berhenti menetes ke lantai. Begitu ini terjadi, asisten ritual harus mengetuk pintu kamar ruangan atas dan menginformasikan pelaku ritual untuk memulai langkah selanjutnya. Pelaku ritual harus meninggalkan ruangan (dan membawa cermin beserta lilin keluar jika mengikuti tradisi yang lebih baru) dan berjalan menuju puncak tangga.
  • Asisten ritual harus melepaskan “boneka” korban dari tombak tempat ia dipancang kemudian membawanya ke puncak tangga di mana pelaku ritual santet sudah menunggu. Pelaku ritual kemudian harus mengambil “boneka” ini, dan melemparkannya ke bawah sambil membacakan mantra, “Él te derriba”. Asisten ritual harus mengambil “boneka” tersebut ketika ia sudah jatuh sampai ke anak tangga paling bawah, membawanya kembali ke atas, di mana pelaku ritual santet akan mengulang proses ini lagi sampai tujuh kali, dengan pembacaan mantra semakin keras. Di awal pelemparan ia akan berbisik, dan di pelemparan ketujuh ia akan berteriak keras sambil mengeluarkan seluruh kemarahan dan dendam yang ditampungnya.
  • Jika ini sudah dilakukan, asisten ritual akan membakar boneka santet tersebut, dan The Señorio Ritual boleh dikatakan selesai. Kain linen, tombak, cermin, lilin, kursi, dan benda-benda lain yang digunakan dalam ritual akan disingkirkan dan disimpan di rumah namun tak pernah digunakan lagi.
  • Dalam tujuh hari, korban santet ini akan mengalami kematian yang sangat mengenaskan. Kebanyakan sumber mengklaim korban akan mendapatkan penyakit yang sangat menyengsarakan mereka selama tujuh hari – namun ada juga yang mengatakan mereka akan dibunuh oleh sosok gelap di kamar tidur mereka. Apapun penyebab kematiannya, santet ala Mexico ini sudah berhasil menyalurkan keinginan pelakunya – balas dendam.

Kebanyakan rumah mansion memiliki “grand staircase” atau tangga seperti ini yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas. Di puncak tangga inilah pelaku ritual akan melakukan tahap terakhir dalam ritual santet ini – melemparkan “boneka” korban ke bawah sebanyak tujuh kali.

PELAKU SANTET ALA MEXICO, THE SEÑORIO RITUAL

Ritual kompleks ini nyaris hanya dilakukan oleh kaum peninsular dan criollo – orang-orang di Amerika Latin yang berdarah asli Spanyol. Perlu diingat sejak kedatangan Columbus, benua ini menjadi salah satu jajahan Spanyol dan banyak orang Spanyol – yang dianggap kedudukannya lebih “superior” ketimbang rakyat lokal dan budak Afrika – tinggal di sana, sebagai conquistador, tuan tanah, maupun aristokrat. Selain itu, aspek lainnya adalah karena hanya kaum-kaum asli Spanyol ini yang memiliki kemampuan untuk memenuhi syarat ritual santet ini – memiliki rumah mansion, pelayan dan asisten yang siap membantu, serta mendapatkan mayat kaum lokal atau budak Afrika dengan mudah.

Ritual ini juga jarang dilakukan – karena tingkat kesulitannya yang tinggi dan tatacaranya yang sangat komplek. Bahkan, menilik dari susahnya mencari sumber tertulis tentang ritual ini, boleh dikatakan ritual ini menjadi semacam “tabu” bagi mereka yang mengetahui cara melakukannya atau pernah mencoba.


Lukisan ini menggambarkan keluarga kaum Criollo – mereka yang berdarah pure Spanish – di rumah mansion mereka yang megah. Kemewahan yang tergambar di sini berbanding terbalik dengan kondisi hidup kaum lokal ataupun budak Afrika yang mereka bawa ke Dunia Baru ini.

Karena tingkat kompleksitasnya yang tinggi, ritual ini sangat susah dilakukan, dan lebih mungkin si pelaku ritual ataupun asistennya akan membuat kesalahan sebelum sempat menyelesaikan ritual.

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah menuangkan terlalu banyak “darah hitam”. Seperti yang sudah ditulis di atas, langkah akhir ritual santet ini hanya bisa dilakukan ketika “darah hitam” sudah berhenti menetes ke lantai. Beberapa sumber menyatakan ritual ini harus dilakukan secepat mungkin – dan harus diselesaikan sebelum tengah malam datang. Jika ini terjadi – akibat dari menunggu “darah hitam” yang tak kunjung berhenti menetes, konsekuensinya akan fatal untuk pelaku ritual karena santet ini bisa berbalik menyerang mereka.

Catatan personal dari mereka yang pernah melakukan ritual ini – langka, tetapi ada – menyatakan mereka seringkali merasakan ada sosok sesuatu yang membuat mereka ketakutan ketika mereka duduk di ruangan atas dalam gelap. Mereka yang mengikuti tradisi yang lebih baru menuliskan betapa mereka melihat bayangan mereka di cermin berubah – menjadi versi mereka yang menyeramkan, bahkan seperti setan.

Sebuah buku harian yang selamat dari seorang pelayan mansion mencatat tentang nyonya rumah mereka yang cemburu terhadap selingkuhan suaminya, dan melakukan ritual ini untuk membunuh saingannya. Pelayan yang ia jadikan asisten menuangkan terlalu banyak “darah hitam” sampai-sampai tetesan tak berhenti bahkan selepas tengah malam. Pelayan ini menuliskan ia tiba-tiba mendengar jeritan dari lantai atas. Si pelayan segera menuju ruangan atas untuk menyelamatkan majikannya, namun ritual tak jadi diselesaikan. Setelah kegagalan santet tersebut, pelayan ini menuliskan ia sering melihat penampakan sesosok makhluk berwarna merah gelap di berbagai tempat di mansion tersebut, yang berakhir setelah kematian sang nyonya rumah – tak ada sebulan setelah ritual gagal tadi.

Selain ini, masalah lain biasanya terjadi ketika “boneka” korban dilemparkan ke bawah tangga. Berbagai sumber menyatakan akibat dilempar berulang kali, “boneka” tersebut semakin hancur (apalagi kalo makenya mayat beneran) dan menyebarkan bau luar biasa, seperti bau mayat bercampur amis darah, yang bahkan memancar keluar dari “boneka” yang dibuah dari jerami dan kayu. Berminggu-minggu setelah ritual selesai pun banyak laporan bahwa bau tersebut seolah menempel di tangga, dan mereka yang sering melewati tangga tersebut (biasanya para pelayan) lama kelamaan mulai menunjukkan tanda-tanda penyakit yang mirip dengan yang seharusnya dialami korban santet ritual tersebut.


Di masa itu, budak dan perdagangan manusia lazim dilakukan. Para budak ini tidak dianggap manusia – mereka dianggap tak lebih seperti hewan ternak – sehingga mendapatkan mayat mereka pun adalah perkara mudah, apalagi untuk keluarga aristokrat.

Salah satu kisah paling mengerikan datang dari catatan harian sebuah keluarga yang menggunakan mayat segar seorang budak lokal mereka sendiri yang baru meninggal. Keluarga ini sudah berhasil mencapai tahap akhir dengan sukses – di mana mereka harus menjatuhkan “boneka” tujuh kali. Namun, di pelemparan keenam, tiba-tiba mayat ini membuka matanya dan mengerang keras – dalam tulisan mereka, “seperti erangan setan” – sehingga mengakibatnya keluarga tersebut panik. Alih-alih menyelesaikan ritual, mereka segera membakar mayat tersebut.

Setelah ini, kepala keluarga tersebut (yang juga menuliskan pengalamannya di catatan harian beliau) mencatat tentang mimpi buruk yang terasa terlalu nyata, sleep paralysis (atau ketindihan) yang biasanya dialami sembari ia melihat “boneka” yang ia pakai, mayat budak tersebut, memandanginya terbaring tak berdaya di kasur. Buku hariannya mengandung catatan seperti ini nyaris setiap malam selama sebulan setelah ritual tersebut dijalankan – sebelum tiba-tiba berakhir. Bisa diasumsikan berhentinya penulisan tersebut terjadi karena pemilik buku harian tersebut meninggal.

Sampai sekarang pun jika kalian pergi mengujungi Mexico dan ikut tur berjalan-jalan ke mansion tua di sana, banyak mansion yang memiliki ruangan – yang bertumpukan – yang nyaris kosong, tak pernah dibuka, dengan bau amis dan menyebabkan perasaan menjadi tak keruan, dan menurut tuan rumahnya kamar tersebut memang tak pernah digunakan, sebelum kemudian segera menutup pintunya seolah tak ingin kalian bertanya lebih jauh. Jika ini terjadi, cobalah kalian mencari informasi, atau mungkin menyelinap ke kamar tersebut di kala gelap.

Siapa tahu, mungkin kalian bisa menguak misteri lain tentang santet ala Mexico ini?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *