The Picture Game – Mencari Gaib dengan Medium Kamera

Sejak kapan ritual The Picture Game ini mulai ada, tak ada yang tahu pasti. Kita bisa menebak ritual ini mulai muncul (dan populer) dalam beberapa dekade terakhir karena ia membutuhkan medium kamera yang memiliki fitur flash dalam ritualnya. The Brownie Starflash yang diluncurkan di tahun 1957 adalah kamera Kodak pertama yang memiliki built-in flash, sedangkan penggunaan kamera rumahan dengan fitur flash baru mulai merebak di era 1960-an akhir.

Kapanpun ia mulai muncul, ide melakukan divinasi dengan medium suatu benda yang berhubungan dengan cermin dan cahaya sudah ada sejak dahulu kala. Ghost Photography atau kegiatan memotret hal-hal gaib sempat sangat populer di abad 20 awal terutama di era awal Edwardian di Inggris. Bahkan sampai sekarang masih ada banyak orang yang berpikir kalau memotret seseorang akan “menangkap” roh orang tersebut (ini sebabnya kalo kamu mau nyantet atau memelet seseorang, dukunnya pasti akan meminta foto dari target).

Salah satu medium lain dalam ritual ini, cermin, juga sudah sejak dulu dipercaya sebagai “portal” menuju dimensi lain, bahkan kalau kalian iseng ngubek-ubek archive Saat Gelap, kalian bakalan nemu banyak banget ritual gaib yang menggunakan cermin. Lalu apa yang bakalan terjadi kalau kita menggabungkan kamera dengan cermin? One thing for sure, it’s gonna be fun  😈


Salah satu hasil dari “spirit photography” yang paling terkenal ini diambil oleh Sybell Corbet di perpustakaan Combermere Abbey pada tahun 1891. Memperlihatkan siluet seorang pria yang sedang duduk di kursi, pria ini ditengarai adalah sosok Lord Combermere yang baru saja meninggal dan dikuburkan di saat foto tersebut diambil.

Danger Level = Low

What you need =

  • Minimal dua peserta, semakin banyak semakin bagus. Permainan ini memang ditujukan untuk dimainkan rame-rame.
  • Tali tambang yang cukup panjang untuk membentuk lingkaran.
  • Gunting atau pisau apa aja yang ujungnya tajam.
  • Satu buah cermin kecil untuk setiap peserta.
  • Kamera dengan fitur built-in flash. TIDAK DIREKOMENDASIKAN MENGGUNAKAN KAMERA HANDPHONE.
  • Sebuah gelas minum dan sebotol minuman beralkohol apa saja, namun disarankan menggunakan jenis wine.
  • Sebuah ruangan yang sepi dan bisa dibuat remang-remang. Idealnya ruangan ini cukup besar untuk semua peserta duduk melingkar di tengah ruangan. Bersihkan lantainya dari benda-benda yang berceceran.

How to play =

  • Siapkan ruangan yang akan kalian gunakan untuk memainkan ritual ini. Kalian bisa memulai di tengah malam. Redupkan penerangan dan tutup semua jendela dengan korden warna gelap.
  • Taruh tali tambang yang sudah disiapkan melingkar di tengah ruangan, dan ikatkan kedua ujungnya.
  • Semua peserta harus duduk di luar lingkaran tali tersebut sambil mengelilingi lingkaran tali. Taruh gelas minuman di tengah-tengah para peserta, dan tuangkan minuman beralkohol yang sudah disiapkan. Taruh cermin genggam di depan setiap peserta dengan permukaan cermin menghadap ke atas.
  • Semua peserta harus memejamkan mata dan berpegangan tangan membentuk lingkaran. Kemudian, masing-masing peserta harus mengatakan, “Aku mempercayaimu”. Perkataan ini harus diucapkan satu persatu, tidak boleh berbarengan. Terserah siapa yang mau mulai duluan dan siapa yang terakhir.
  • Setelah semua sudah mengatakan mantra di atas, semua peserta harus mengucapkan bersamaan, “Pintu sudah terbuka, kami persilakan untuk datang” sebanyak tiga kali. Setelah itu, para peserta boleh membuka mata.
  • Masing-masing peserta kini boleh mengambil medium kamera dan mencoba memotret secara bergiliran. Peserta yang ingin memotret harus mengatakan, “Aku berhasil menangkapmu!”, kemudian mengarahkan kamera ke tengah-tengah lingkaran, bisa memotret satu kali dengan flash dinyalakan. JIKA MENGGUNAKAN MEDIUM KAMERA DIGITAL, JANGAN COBA-COBA MENGECEK FOTO YANG BARUSAN KALIAN AMBIL SEBELUM MENYELESAIKAN RITUAL!
  • Ulangi proses ini sampai semua peserta sudah mengambil foto sebanyak tiga kali.
  • JIKA ADA PESERTA YANG TIBA-TIBA MERASA SAKIT, TIDAK ENAK BADAN, ATAU TAKUT, JANGAN PAKSA MEREKA MEMOTRET. Lewati peserta ini dan berikan kamera kepada peserta berikutnya yang duduk di sebelah peserta yang ketakutan.
  • Jika kamera sudah dipakai bergiliran sebanyak tiga kali, taruh kamera di lantai.
  • Seluruh peserta harus menutup mata dan mengatakan, “Sudah waktunya pulang” sebanyak tiga kali, bersamaan. Kemudian, balikkan cermin genggam masing-masing agar permukaan cermin menghadap ke bawah.
  • Kini lampu boleh dinyalakan kembali.
  • Dengan gunting atau pisau, potong lingkaran tali tambang, kemudian ambil gelas berisi minuman beralkohol dan segeralah buang isinya ke atas tanah mana saja untuk menetralkan energi yang ada.
  • Kini kalian boleh mengecek foto-foto yang sudah kalian ambil. Perhatikan baik-baik dan dengan teliti! Jika beruntung (atau justru tidak beruntung), akan ada sesuatu yang gaib yang ikut terambil di dalam foto.

“Orbs” atau lingkaran-lingkaran cahaya ini dipercaya salah satu bukti bahwa arwah bisa tertangkap kamera dalam bentuk energi cahaya. Namun skeptis biasanya mengatributkan munculnya lingkaran cahaya ini dari partikel-partikel debu yang tak kasat mata namun merefleksikan cahaya ketika dipotret dengan medium kamera.

DO’S AND DONT’S

JIKA ADA PESERTA YANG TIBA-TIBA BERTINGKAH ANEH, HENTIKAN RITUAL. Kalian mungkin juga harus siaga dengan pemuka agama masing-masing atau orang pintar yang bisa tau apa yang harus dilakukan jika ada peserta yang kesurupan.

JIKA LEBIH DARI SATU PESERTA TIBA-TIBA KETAKUTAN ATAU MERASA SAKIT / TIDAK ENAK BADAN, HENTIKAN RITUAL.

JIKA PESERTA YANG KETAKUTAN ATAU SAKIT NEKAD MENGAMBIL FOTO, JANGAN MENGECEK FOTO YANG SUDAH KALIAN AMBIL DAN HENTIKAN RITUAL SEGERA. Kamera yang digunakan sebagai medium potret juga harus dihancurkan.

Untuk mengakhiri ritual caranya sama dengan mengakhiri ritual biasa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *