Memanggil Tamura-San, si Hantu Jepang Pembalas Dendam

Jepang terkenal dengan kekayaan cerita horornya, bahkan banyak hantu Jepang yang popularitasnya di negara lain melampaui hantu lokal. Hantu-hantu seperti Kuchisake-onna (si Wanita Bermulut Belah) dan yokai seperti Kitsune sering tampil menjadi bintang utama dalam manga dan anime Jepang. Tamura-san juga tak berbeda denga hantu Jepang pada umumnya, ia memiliki cerita di balik mengapa ia menjadi hantu, dan mengapa ia memilih menghantui orang lain.

Kisah Tamura-san adalah kisah seorang gadis Jepang yang sering di-bully oleh teman-teman sekolahnya, sehingga ia memilih bunuh diri. Sejak saat itu, hantunya tak bisa beristirahat dengan tenang dan Tamura-san memilih untuk membantu orang-orang yang memiliki dendam membara karena perlakuan tidak adil, seperti dirinya.

Jika kamu sering disakiti oleh seseorang (atau beberapa orang) sampai putus asa, dan ingin membalas dendam, maka ritual ini mungkin cocok untukmu. Hanya saja perlu kamu ingat bahwa walaupun Tamura-san tidak suka melihat ketidakadilan, ia tetaplah hantu Jepang yang pendendam, dan melakukan ritual ini bisa berisiko kehilangan kewarasanmu. Silakan kamu lakukan dengan risiko ditanggung sendiri.


Toilet sekolah Jepang sejak dulu selalu menyimpan sejuta kisah misteri. Berbagai hantu dan urban legend menghuni toilet sekolah Jepang, termasuk Hanako-san, Tamura-san, Akamanto, dan entah apalagi. Ini disebabkan kemungkinan karena toilet sekolah di Jepang (apalagi sekolah kuno) rata-rata gelap dan sempit, sehingga menimbulkan kengerian kepada siapapun yang kebetulan masuk ke dalam sendirian.

Danger Level = Very High

What you need =

  • Minimal tiga orang pemain dan satu orang asisten. Idealnya, semua pemain ritual ini haruslah seseorang yang tidak punya banyak teman, tidak bersinar dalam kehidupan sosialnya, sering diperlakukan tidak adil atau dijahati, dan sudah sampai tahap nyaris putus asa. Jika kamu seorang pembully atau punya banyak teman dan bahagia, Tamura-san bisa saja berbalik mengutukmu.
  • Satu buah gedung sekolah yang agak tua, kalau bisa sekolah putri. Kamu akan melakukan ini di toilet putri sekolah pilihanmu di malam hari ketika sekolah sudah sepi, dan toilet ini harus memiliki minimal tiga bilik di dalamnya, dan semua biliknya harus menghadap ke satu arah.
  • Sepasang sepatu wanita model pantofel / loafer, kalau bisa warna hitam atau putih seperti yang biasa dipakai anak-anak sekolah Jepang. Ingat, Tamura-san adalah hantu Jepang yang bunuh diri di sekolah. Semakin mirip sepatu yang kamu gunakan, semakin besar kesempatan ritualmu berhasil dan Tamura-san akan muncul.
  • Minimal tiga batang lilin warna apa saja dan korek api batangan sejumlah lilin.
  • Hand sanitizer yang mengandung alkohol dalam jumlah besar. Jangan bawa hand sanitizer yang travel size, kalau bisa bawa botol ukuran seliter.
  • Bunga red spider lily (bakung merah) (Lycoris radiata)
  • Dua buah mangkok untuk setiap peserta.
  • Garam sebanyak mungkin, masing-masing peserta harus bawa.

How to play =

  • Tunggu sampai hari gelap sebelum memulai ritual. Pastikan juga sudah tidak ada siapa-siapa di seantero gedung sekolah tersebut selain para peserta.
  • Pergilah menuju toilet yang sudah kalian pilih. Taruh sepatu wanita di tengah-tengah toilet, posisikan di depan bilik-bilik toilet dan membelakangi pintu bilik. JANGAN PERNAH MEMPOSISIKAN SEPATU WANITA INI MENGARAH KE ARAH KALIAN!

Umumnya murid-murid sekolah Jepang mengenakan sepatu seperti ini. Kamu bisa menggunakan sepatu yang mirip (jika ada), atau yang berwarna putih.

  • Semua peserta harus mengisi mangkok dengan hand sanitizer dan menaruh lilin di tengah-tengah cairan tersebut. Masing-masing peserta harus memilih satu bilik toilet. Masing-masing peserta harus menaruh mangkok lilin di atas kloset di bilik tersebut, kemudian nyalakan lilin dengan korek api batang. Lakukan ini satu per satu, jangan berbarengan. HATI-HATILAH JANGAN SAMPAI TERJADI KEBAKARAN! Jika ada peserta yang salah malah menyalakan hand sanitizer dengan alkohol yang mengelilingi lilin, atau gagal menyalakan lilin sampai korek api batangan tersebut mati sendiri, segera batalkan ritual dan pergilah dari situ.
  • Asisten harus masuk ke toilet dan mematikan semua lampu. Perhatikan lilin kalian masing-masing. Bilik dengan nyala lilin yang berwarna biru (jika ada lebih dari satu nggak masalah) adalah bilik yang kemungkinan besar akan dikunjungi Tamura-san. Nyala api biru ini adalah nyala api hantu Jepang yang umum disebut onibi, dan akan menuntun Tamura-san menuju bilik kalian. Jika ada bilik dengan nyala api biasa berwarna merah, berarti bilik ini gagal.
  • Berjalanlah mundur keluar dari bilik masing-masing sambil tetap memandangi lilin sambil mengulang-ulang mantra, “Tamura-san, Tamura-san, Ta-mu-ra-san” dan tutup pintu bilik masing-masing. Berhentilah di jarak kira-kira 30 cm dari pintu bilik, kemudian kelilingi diri kalian masing-masing dengan lingkaran garam. JANGAN MELIHAT KE ARAH PESERTA LAIN, FOKUSKAN PANDANGAN KE DEPAN! Terus ulang-ulang mantra tersebut, jangan berhenti sampai ada peserta mendengar suara tali putus atau hentakan pelan.
  • JIKA ADA BANYAK PESERTA YANG MENDENGAR SUARA INI DARI BANYAK BILIK, SEGERA HENTIKAN RITUAL! Panggil asisten kalian untuk menyalakan lampu, kemudian tunggu suara-suara tersebut hilang baru tinggalkan area tersebut. Ini berarti tak hanya Tamura-san yang datang, tapi juga hantu-hantu lain, entah hantu Jepang atau hantu lokal.
  • Jika hanya ada satu peserta saja yang mendengar suara ini, berarti bilik milik peserta tersebut kini diisi oleh Tamura-san. Peserta bilik ini harus mengucapkan, “Tamura-san, (__nama pelaku__) telah menyakitiku. Kumohon balaskanlah dendamku.” Kemudian peserta ini harus meletakkan bunga red spider lilies ke dalam mangkok kosong dan selipkan ke dalam bilik lewat celah di bawah pintu. Katakan lagi, “Kuberikan hadiah ini untukmu, Tamura-san. Semoga kamu menemukan kedamaian di kehidupanmu yang berikutnya.”
  • Tunggulah sampai situasi benar-benar hening, kemudian kalian boleh memanggil asisten untuk menyalakan lampu. Bereskan garam masing-masing, namun JANGAN PINDAHKAN BENDA-BENDA LAINNYA, TERMASUK SEPATU, LILIN, DAN BUNGA! Selamat kepada peserta terpilih, karena Tamura-san akan segera membalaskan dendammu.

Bunga ini (di Indonesia disebut juga bunga bakung lelabah merah) terlihat indah semarak, namun sesungguhnya beracun. Di Jepang, bunga ini disebut higanbana, yang secara harafiah berarti bunga sungai Sanzu (sungai legendaris di mana arwah orang mati harus menyeberanginya untuk mencapai dunia orang mati). Di Jepang dan China, bunga indah ini umumnya ditanam di sekitar pemakaman dan diasosiasikan dengan kematian.

KISAH ASLI HANTU JEPANG TAMURA-SAN

Tamura-san, sebelum menjadi hantu Jepang penghuni toilet, dulunya hanyalah seorang gadis SMP yang sering dibully oleh teman-temannya. Suatu hari ketika tak tahan lagi, Tamura-san menggantung dirinya sendiri di toilet sekolahnya, meninggalkan pesan kematian yang bertuliskan, “Kalian sudah memiliki segalanya. Mengapa kalian menggangguku yang tak memiliki apa-apa?”

Sejak saat itu Tamura-san menghantui toilet sekolah dan membantu korban-korban bully lainnya, termasuk membalaskan dendamnya kepada ketiga gadis yang sering mengganggunya di sekolah. Namun Tamura-san selalu bertindak adil, dan jika kamu berhasil memanggilnya, namun ia menganggap kamu tidak layak menerima bantuannya atau lebih buruk lagi mencoba mencelakai orang yang tak sepadan, dia bisa berbalik malah mencelakaimu.


DO’S AND DONT’S

JANGAN MENCOBA BERBALIK BADAN (MEMBELAKANGI PINTU BILIK TOILET) ATAU MENCOBA BERBICARA DENGAN PESERTA LAINNYA SELAMA RITUAL BERLANGSUNG. Peserta hanya boleh membaca mantra, berkomunikasi dengan Tamura-san, atau memanggil asisten.

JANGAN MENCOBA MENGUTUK SESEORANG YANG TIDAK BERSALAH. Tamura-san bisa berbalik mengutukmu karena hantu Jepang ini sangat benci ketidakadilan.

JANGAN MEMINDAHKAN APA-APA DARI TEMPAT RITUAL WALAUPUN RITUAL SUDAH USAI KECUALI LINGKARAN GARAM.

JANGAN MENCOBA MEMBUKA PINTU TOILET KETIKA RITUAL BERLANGSUNG. Tamura-san tak suka dilihat!

JIKA KAMU MEMILIKI INDRA KEENAM YANG KUAT, JANGAN MENCOBA RITUAL INI. Kamu bisa malah jadi sakit atau membahayakan peserta lainnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *